color: #FF0000; Nurdin Furry

Rabu, 09 Februari 2011

Pilih Tidur Lebih Lama atau Olahraga?

Akhir pekan, bagi banyak orang, adalah waktunya bersantai dan memperpanjang waktu tidur sebagai pengganti jam tidur yang habis disabotase pekerjaan. Apalagi, penelitian mengaitkan tidur dengan kesehatan.

Sayangnya, jika pilihannya adalah tidur lebih lama atau bangun untuk berolahraga, Anda disarankan untuk berolahraga.

"Menjaga kebugaran dengan bangun pada pagi hari bukan cuma membuat Anda lebih segar, tetapi juga membantu jam tubuh menetapkan ulang sehingga esoknya Anda lebih mudah bangun pagi," kata Shawn DYoungstedt, peneliti tidur dari University of South Carolina di Columbia, Amerika Serikat.

Penelitian menunjukkan, orang yang tidur tujuh jam setiap malam memiliki angka kematian lebih rendah ketimbang mereka yang tidur lebih dari 8 jam pada malam hari.

Akan tetapi, jika beberapa waktu terakhir ini Anda kurang tidur, misalnya karena baru punya bayi atau sedang menyiapkan diri untuk ujian akhir, Anda tidak disarankan mengorbankan waktu tidur Anda untuk olahraga.

Menurut peneliti dari National Sleep Foundation, waktu tidur yang kurang juga berkorelasi dengan depresi, obesitas, penyakit kardiovaskular, dan diabetes.


Sumber : KOMPAS.com

Wanita Lebih Rentan Dehidrasi

Kekurangan cairan alami tubuh atau biasa disebut dehidrasi bisa menyebabkan penurunan stamina, konsentrasi, bahkan bisa berakibat fatal. Dibandingkan dengan pria, ternyata wanita lebih rentan terhadap dampak negatif dehidrasi, terutama pada penurunan kemampuan kognitif dan mood.

Penelitian mutrakhir yang dilakukan Lawrence E.Amstrong, pakar hidrasi dunia dan Harris R.Lieberman, pakar neuro kognisi, menyebutkan dehidrasi sebesar 1,5 persen pada pria akan menyebabkan turunnya konsentrasi dan daya ingat, kelelahan dan ketegangan. Sementara itu pada wanita efek negatif itu sudah dirasakan ketika terjadi dehidrasi 1,3 persen.

"Wanita memang lebih sensitif pada efek kekurangan cairan. Dehidrasi sebesar 1,3 persen sudah memiliki dampak seperti dehidrasi pada pria yang kekurangan 1,5 persen cairan tubuh. Pada wanita bahkan ditambah dengan efek sakit kepala," kata Dr.dr.Saptawati Bardosono, Sp.GK, ketika memaparkan hasil riset terbaru tersebut di Jakarta, Rabu (9/2).

Ia menambahkan, selain faktor hormonal, perbedaan pengaruh dehidrasi ini juga disebabkan karena perbedaan komposisi tubuh laki-laki dan perempuan. "Pria komposisi ototnya lebih tinggi, sedangkan wanita lemaknya lebih tinggi sehingga komponen airnya juga lebih banyak," kata staf pengajar di program studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Studi yang dilakukan tahun 2010 itu melibatkan 20 wanita dewasa sehat yang punya kebiasaan minum air sebanyak 2-3 liter sehari. Mereka kemudian diminta untuk berpuasa minum air selama 23 jam dan melakukan tes kognitif. Hasil studi menunjukkan mereka mengalami penurunan konsentrasi, kelelahan, mengantuk, nyeri kepala dan cepat terganggu moodnya.

Pembicara lain, dr.Luciana Sutanto, Sp.GK menyebutkan dehidrasi kronik sering kali tidak bergejala karena tubuh memiliki mekanisme adaptasi sendiri. "Saat tubuh kekurangan cairan ia akan mengirim sinyal berupa rasa haus. Di dalam tubuh sendiri terjadi pengentalan plasma darah sehingga akan dikeluarkan hormon tertentu yang menyebabkan penghematan penggunaan air berupa jumlah urin yang sedikit," paparnya.

Luciana menyarankan agar keseimbangan tubuh dijaga dengan cara mengonsumsi cukup cairan sebelum timbulnya rasa haus. "Jangan abaikan rasa haus karena itu adalah isyarat tubuh," katanya.

Sumber : Kompas.com

Tidur Larut Bisa Picu Mati Mendadak

Kesibukan kerap membuat banyak orang menjadi lupa diri, termasuk urusan beristirahat. Bukan hal aneh bila masyarakat di era modern ini, khususnya di perkotaan, selalu tidur larut malam dan harus bangun pagi buta.

Tak banyak yang menyadari apabila kebiasaan tersebut dapat menimbulkan efek yang sangat buruk bagi kesehatan. Tidur yang terlalu larut yang menyebabkan waktu berisitirahat menjadi minim nyatanya berpotensi menjadi ancaman baru yang mematikan.

Sebuah kajian riset terbaru menunjukkan, kurangnya waktu berisitirahat pada malam hari dapat memicu risiko penyakit jantung dan stroke. Penelitian para ahli dari Warwick Medical School yang dipublikasikan dalam European Heart Journal menyatakan, tidur kurang dari enam jam setiap malam dapat meningkatkan risiko kematian akibat strok hingga 15 persen dan risiko kematian akibat serangan jantung melonjak hingga 50 persen.

Francesco Cappuccio, seorang profesor bidang epidemiologi dan pengobatan kardiovaskuler, beserta rekannya Dr Michelle Miller, pakar ilmu kedokteran, membuat kesimpulan tersebut setelah memantau sekitar 470.000 orang di delapan negara selama kurun waktu 7 sampai 25 tahun.

"Ada tuntutan saat ini di masyarakat bahwa hidup kita harus lebih bugar. Demi memperjuangkan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan membuat kita terlalu banyak mempertaruhkan waktu tidur yang berharga untuk memastikan semua tugas telah dilakukan. Tetapi dengan melakukan hal itu, kita justru mengalami peningkatan risiko stroke dan mengidap penyakit kardiovaskuler yang berujung pada serangan jantung," papar Cappuccio.

"Jika Anda tidur kurang dari enam jam setiap malam dan tidurnya terganggu, Anda memiliki 48 persen risiko lebih besar mengidap atau mengalami mati muda akibat serangan jantung, dan risiko meninggal akibat stroke meningkat 15 persen.

"Tren tidur larut malam dan dini hari adalah bom waktu untuk kesehatan Anda. Jadi, Anda harus bertindak sekarang untuk menekan risiko mengalami kondisi-kondisi yang mengancam hidup," tambahnya.

Penelitian menyebutkan, waktu optimum untuk beristirahat pada malam hari adalah tujuh sampai delapan jam. Sedangkan tidur lebih dari sembilan jam merupakan pertanda adanya gangguan kesehatan.

Para ahli hingga saat ini belum dapat menjelaskansecara pasti mengapa kurang tidur dapat mengganggu sistem pembuluh darah dan jantung. Tetapi menurut Cappuccio, ada banyak bukti bahwa kurang tidur dapat mengganggu sistem endokrin yang mengatur produksi hormon dalam tubuh.

Selain itu, kurang tidur juga dapat menggangu toleransi glukosa dan menurunkan sensitivitas insulin, sehingga dapat memicu risiko diabetes serta tekanan darah tinggi.

Tahun lalu, Prof Cappuccio juga mempublikasikan sebuah tinjauan dari 16 studi yang melibatkan sekitar 1,3 juta orang. Tinjauan itu menunjukkan bahwa mereka yang tidur kurang dari enam jam setiap malam berisiko 12 persen lebih tinggi meninggal sebelum usia 65 tahun, ketimbang mereka yang tidur selama tujuh hingga delapan jam semalam.


Sumber : KOMPAS.com

Konsumen Kenali Obat Palsu dari Kemasannya

Peredaran obat ilegal di pasaran membuat konsumen harus jeli membedakan obat yang ilegal dan legal agar tidak tertipu dan mengonsumsi obat ilegal. Namun, pengenalan atas obat yang legal masih sebatas melihat kemasan.

Kepala Pusat Penyelidikan Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Rumonda Napitupulu, Kamis (27/1), mengatakan, konsumen perlu cermat membedakan obat yang layak konsumsi atau tidak.

”Sebenarnya, metode terbaik adalah melalui pemeriksaan laboratorium. Untuk masyarakat awam, satu-satunya jalan agar terhindar dari obat palsu adalah membeli obat dengan resep dokter di apotek terpercaya,” kata Rumonda.

Selain itu, konsumen juga perlu memeriksa kemasan obat dengan teliti. Pemeriksaan kemasan obat itu terkait nomor registrasi obat, segel obat, kemasan utuh atau bocor, label obat, nama obat, produsen, tanggal kedaluwarsa, serta nomor batch.

Rumonda mengatakan, nomor batch dan tanggal kedaluwarsa tercetak pada kemasan dan menggunakan tinta yang tidak mudah luntur. Namun, pengenalan nomor batch juga membutuhkan keahlian tertentu untuk mengetahui barang itu asli atau tidak.

Dia meminta konsumen untuk berkonsultasi lagi ke dokter jika tidak ada kemajuan setelah meminum obat. Begitu pula jika terjadi keluhan tertentu setelah mengonsumsi obat tertentu.

Dia mengakui peringatan keras kepada masyarakat mengenai bahaya konsumsi obat ilegal serta penyuluhan di masyarakat mengenai cara mengenali obat ilegal adalah salah satu cara untuk memberantas obat palsu.

Jika menemukan kejanggalan tertentu di kemasan obat, konsumen dapat mengadukan temuan itu ke unit layanan pengaduan konsumen BPOM di Jalan Percetakan Negara Nomor 23, Jakarta Pusat, atau menghubungi nomor telepon 426333. Konsumen juga dapat mengirim surat elektronik ke ulpk@pom.go.id atau mengadukan ke Balai POM di masing-masing daerah.

Meracuni konsumen

Kepala Departemen Farmasi Universitas Indonesia (UI) Yahdiana Harahap mengatakan, peredaran obat dan suplemen palsu dapat membahayakan konsumen. Sebab, barang-barang itu berasal dari bahan limbah yang seharusnya dimusnahkan karena telah kedaluwarsa.

Senyawa pada obat dan suplemen kedaluwarsa kemungkinan besar berubah. Perubahan ini bisa dari senyawa yang mengobati sakit menjadi senyawa membahayakan kesehatan. Dampak paling buruk bahkan dapat meracuni penggunanya.

”Batas kedaluwarsa obat ditentukan melalui penelitian medis. Obat itu diperkirakan bertahan dalam waktu tertentu dan dari pengaruh luar seperti suhu udara,” kata Yahdiana.

Dia mencontohkan, suplemen vitamin C yang kedaluwarsa bisa teroksidasi karena pengaruh lingkungan. ”Jika hal ini terjadi, suplemen itu terurai menjadi senyawa lain sehingga memicu terbentuknya batu ginjal pengguna,” kata Yahdiana.

Dia menyayangkan peredaran bahan limbah medis ke pasaran. Seharusnya, limbah medis tidak boleh diperjualbelikan karena pendistribusian barang seperti ini diatur hukum. Pihak yang sengaja menjual barang limbah ke pasaran dapat menghadapi proses hukum. Begitu juga lembaga usaha resmi yang sengaja menjual bahan limbah medis.

”Pemerintah dapat mencabut usaha dan memutus kerja sama pengolahan limbah,” katanya.

Menurut dia, sulit membedakan obat dan suplemen palsu dengan produk resmi. Secara kasat mata, kedua produk ini sama persis. Sebagaimana informasi yang dihimpun Kompas, dua produk ini tidak berbeda. Pembuat obat dan suplemen palsu memakai bahan limbah kedaluwarsa. Mereka hanya mengganti kemasan limbah obat dan suplemen, kemudian memasarkan lagi. Pembuat obat palsu juga mengganti batas kedaluwarsa menjadi dua tahun ke depan.

”Saya sendiri tidak dapat membedakannya. Satu-satunya jalan adalah dengan menguji di laboratorium. Masyarakat awam sulit melakukan hal itu,” kata Yahdiana.

Iskandar (31), pegawai swasta di Depok, khawatir dengan obat murah di pasaran. Jangan-jangan obat yang dia konsumsi bukan produk resmi. Dia sering mengonsumsi salah satu merek obat yang dipalsukan seperti diberitakan media.


Sumber : Kompas.com

Kenali Tanda Lain Dehidrasi

Dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh paling mudah ditandai dengan timbulnya rasa haus. Bila isyarat ini diabaikan, tubuh akan bereaksi dengan mengirimkan sinyal lain yang sering tidak kita sadari.

Dehidrasi ringan sampai sedang ditandai dengan mulut kering dan lengket, mengantuk, jumlah urin sedikit dan tubuh terasa lelah. "Kelelahan di siang hari, sakit kepala dan turunnya konsentrasi juga sering dialami kaum wanita yang sedang dehidrasi," kata dr.Saptowati Bardosono, Sp.GK, ahli gizi klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Dehidrasi juga bisa menyebabkan tekanan darah menurun sehingga muncul rasa pusing di kepala ketika berdiri. "Jika sakit kepala jangan buru-buru minum obat, minumlah dua gelas air lalu tunggu sampai 20 menit, biasanya sakitnya hilang," saran dr.Saptowati.

Orang dewasa berusia 25-55 tahun setiap harinya membutuhkan 35 mililiter air per kilogram berat badan. Ini berarti jika orang berusia 30 tahun dengan berat badan 60 kg, membutuhkan 2100 milileter air atau setara dengan 8-10 gelas air.

"Selain melalui air minum, kebutuhan cairan ini juga terpenuhi lewat makanan yang mengandung air serta cairan yang dihasilkan dari metabolime tubuh sekitar 300 mililiter," kata dr.Luciana Sutanto, Sp.GK, dari program studi Ilmu Gizi FKUI Jakarta.

Luciana menambahkan, dehidrasi juga bisa terjadi akibat keringat berlebih, cuaca panas, aktivitas fisik yang berat, muntah, diare, atau penggunaan obat yang menyebabkan banyak kencing.


Sumber : Kompas.com

Wanita Bahagia Hidup Lebih Lama

Tinggalkan emosi-emosi negatif seperti marah dan cemburu karena bisa mendatangkan dendam, sikap tidak sabar, bahkan mendatangkan penyakit. Mari buat hidup lebih bahagia karena orang berbahagia hidup lebih lama.

Sebuah kajian tentang kebahagiaan dan kesehatan menemukan wanita yang punya sikap optimis kemungkinannya 30 persen lebih kecil untuk meninggal akibat penyakit jantung. Kesimpulan ini dihasilkan dari penelitian bertajuk Women's Health Initiative di Amerika.

Amarah kronis dan kecemasan sudah sejak lama diketahui akan mengganggu fungsi jantung dengan mengubah stabilitas elektrik jantung, mempercepat penyumbatan pembuluh darah serta meningkatkan peradangan.

Tim peneliti yang dipimpin Hilary A.Tindle, MD merekomendasikan pentingnya pikiran positif. Sikap ini bisa dipupuk lewat berbagai cara, misalnya melakukan kegiatan rekreatif seperti menonton film atau merencanakan liburan.

Kehampaan dalam jiwa yang bisa menjauhkan diri dari rasa bahagia juga bisa diatasi dengan cara melakukan meditasi, membangun persahabatan, serta membuat diri bermakna bagi orang lain.


Sumber : Kompas.com

Joging Tanpa Sepatu Lebih baik?

Mungkin Anda pernah mendengar nasihat yang menyebutkan melakukan joging bertelanjang kaki bisa mengurangi cedera sendi. Sebenarnya pendapat itu keliru.

Berlari atau joging tanpa alas kaki justru akan mempermudah cedera pada lutut dan pergelangan kaki. Terutama, bila dilakukan di landasan yang keras, misalnya aspal. Selain itu, juga akan membuat lengkung telapak kaki (foot arch) menjadi turun.

Dalam batas-batas tertentu, joging tanpa alas kaki memang dapat membantu meregangkan otot-otot telapak kaki, sekaligus memperkuatnya. Akibatnya, peredaran darah jadi lebih baik. Namun, bila dilakukan dalam waktu yang panjang, kebiasaan ini malam menjadi beban bagi keki. Apalagi bila pelakunya memiliki berat badan berlebih atau mengalami gangguan bentuk telapak kaki.

Di situlah pentingnya sepatu dalam membantu telapak kaki yang bermasalah, misalnya flatfoot, high arch foot, tip toe, dan lain-lain. Penggunaan sepatu dapat mencegah terjadinya gangguan kesehatan yang ditimbulkan akibat tekanan besar dan lama, akibat bertelanjang kaki.

Kesimpulannya, joging tanpa alas kaki tidak selalu berdampak baik bagi semua orang. Dan, sepatu tidak selamanya hanya untuk bergaya, seperti yang dikenal saat ini. Tapi, lebih penting lagi, punya fungsi perlindungan bagi kaki.


Sumber : Kompas.com